Trump Bertemu Xi Jinping di China Pekan Ini, Bakal Tekan soal Iran

2
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (Foto: Getty Images via AFP/ANNA MONEYMAKER)

Jakarta, bisnissumsel.com-

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bakal berkunjung ke China selama 3 hari pada 13-15 Mei mendatang. Trump akan bertemu Presiden China Xi Jinping membahas perang Iran dan perdagangan.

“Atas undangan Presiden Xi Jinping, Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump akan melakukan kunjungan kenegaraan ke China dari tanggal 13 hingga 15 Mei,” kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri, dilansir AFP dan Al Jazeera, Senin (11/5/2026). Kunjungan tersebut atas undangan dari Xi Jinping.

Wakil Sekretaris Pers Utama Gedung Putih, Anna Kelly, mengatakan upacara pembukaan dan pertemuan akan berlangsung pada Kamis pagi dan akan berakhir pada hari Jumat. Sementara itu AS berencana untuk menjamu pemimpin China tersebut selama kunjungan balasan pada akhir tahun ini.

Kelly mengatakan, kunjungan Trump pada Kamis nanti akan memiliki “makna simbolis yang luar biasa” dan berfokus pada “menyeimbangkan kembali hubungan dengan China dan memprioritaskan timbal balik dan keadilan untuk memulihkan kemerdekaan ekonomi Amerika”.

Kunjungan Trump, awalnya dijadwalkan pada awal tahun ini, tetapi ditunda pada bulan Maret karena perang AS-Israel di Iran.

Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan kepada media secara anonim, bahwa Trump dapat “memberikan tekanan” kepada China terkait Iran di bidang-bidang seperti penjualan minyak dan pembelian barang-barang militer-sipil yang berpotensi memiliki fungsi ganda oleh Teheran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pekan lalu menuduh China “mendanai” Iran.

“Iran adalah negara sponsor terorisme terbesar, dan China telah membeli 90 persen energi mereka, jadi mereka mendanai negara sponsor terorisme terbesar,” kata Bessent kepada Fox News.

Diketahui, Iran menutup Selat Hormuz sebagai tanggapan terhadap serangan AS-Israel, membatasi jalur melalui jalur utama transportasi energi global.

China telah menyatakan keinginannya untuk mengakhiri perang dan menjamu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Arraghchi pekan lalu. Pada saat yang sama, Beijing menolak untuk mengakui sanksi “sepihak” Washington terhadap sektor minyak Iran.

Gangguan yang timbul dari perang telah mengganggu ekonomi global, dengan negara-negara Asia yang bergantung pada impor dari Timur Tengah sangat terpukul.

(yld/whn/detik)